24 November 2007

Kisah Batu Akik di Jagal Timur

(Sebuah cerbeng = cerita rombeng)
Lebih dulu di:
http://www.fordisastra.com/modules.php?name=News&file=article&sid=569
( 24/11/2007)


Di suatu gelap, di musim yang lalu, ketika itu hujan batu. Hujan batu; yang turun batu hitam, batu plapak, batu karang, batu bata, batu gunung, dan tak ketinggalan ada secuil batu akik yang terukir, lengkap dengan cincinnya. Cincin akik itu satu-satunya barang bukti yang ditemukan dalam kerusuhan pemilihan kepala daerah (pilkada) propinsi Jagal Timur. Kantor gubernur dan DPRD hancur dihujani batu ketika matahari masih pulas tertidur menjelang ayam jantan berkokok. Patut diduga, kaum perusuh itu pendukung pasangan cagub-cawagub H. Kamat, SH – Ir. Sukar (disingkat Kasur) yang kalah suara selisih tiga ribu suara dengan pasangan Drs. Ngilam – Kopmar, ST. (disingkat Ngamar).

Sebelumnya memang ada isu bahwa para pendukung Kasur akan protes massal kepada Komisi Pemilihan Kepala Daerah (Kompilkada) Jagal Timur yang dianggap memihak pasangan Ngamar. Anehnya, para intel polisi di Jagal Timur mengaku tidak mencium rencana serangan fajar hujan batu yang memorak-porandakan gedung pemerintahan di ibukota Jagal Timur. Di koran-koran dan televisi muncul opini dan komentar para analis politik, sosial dan hukum yang menuduh kepolisian telah memihak sehingga sengaja membiarkan kerusuhan itu terjadi. Kapolda Jagal Timur dengan senyumnya menepis isu itu. ”Kami bekerja untuk negara, bukan untuk golongan,” kata Kapolda Jagal Timur. Kelompok pendukung pasangan Kasur membantah. ”Itu fitnah! Kami akan menuntut para komentator yang asal njeplak itu! Ini negara hukum. Kami akan protes keberpihakan Kompilkada dengan aksi demo yang sesuai dengan hukum. Para perusak itu adalah orang-orang bayaran yang sengaja menyulut situasi!” Isu pun bertambah melebar, bertambah tinggi, setinggi muncratan lumpur Lapindo di Jawa Timur yang berkali-kali membuat tanggulnya jebol.


Pelantikan pasangan Ngamar ditunda atas keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Atas Angan dengan alasan: untuk menghindari ketidakamanan sosial. Para pendukung kubu Ngamar mengancam akan menduduki ibukota Atas Angan jika Menteri Dalam Negeri tidak menganulir keputusannya. Sementara itu Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat Atas Angan tidak melakukan apa-apa atas laporan Kompilkada Jagal Timur. ”Kami terserah Pak Menteri ajalah,” kata Prof. Sumumpung, SH, ketua KPU, dengan santai.

Para wartawan mendesak Kapolda Jagal Timur tentang hasil penyelidikan kepolisian terkait perusakan kantor pemerintahan Jagal Timur. ”Kami sudah mengantongi nama pemilik cincin akik yang kami temukan di tempat kejadian perkara (TKP), tapi untuk kepentingan penyelidikan yang belum selesai maka saya rahasiakan dulu siapa dia. Maaf ya!” kata Kapolda Jagal Timur disambut suara gerutu para wartawan. Besoknya, sebuah koran nasional ternama membuat judul berita: ”Otak Pelaku Kerusuhan Jagal Timur di Kantong Kapolda!”

Judul berita itu menimbulkan kesalahan persepsi anak-anak SMP di pusat kota Jagal Timur. Mereka demo ke Polda Jagal Timur, membawa poster-poster dengan tulisan, ”Rebut Isi Kantong Kapolda untuk Rakyat!” ”Di Kantong Kapolda Ada Otak Kerusuhan.” dan lain-lain. Kapolda Jagal Timur yang dikenal ramah itu maunya menemui anak-anak SMP yang mendemonya. Tak tahunya anak-anak SMP itu mengeroyok Kapolda dan menggeledah kantong-kantongnya. ”Wah, nggak ada! Nggak ada! Di saku Pak Kapolda nggak ada otak! Nggak ada .....! Ini yang bohong Pak Kapolda atau koran?” Anak-anak itu ribut dan kecewa. Sementara itu Kapolda segera diamankan anak buahnya, meski Kapolda maunya masih ingin bincang-bincang dengan anak-anak SMP. Besoknya lagi muncul judul berita: ”Anak-anak SMP Pendemo Kapolda Dihukum push-up di Sekolah!” Para aktivis pegiat pendidikan demo! Tak pelak kasusnya melebar ke isu pendidikan koersif. Jagal Timur semakin ribut. +++

Tiga bulan kemudian pasangan Ngamar dilantik menjadi Gubernur Jagal Timur. Pelantikannya ibukota Republik Atas Angan. Di ibukota Provinsi Jagal Timur, pasukan pagar betis Polda Jagal Timur tak mampu menahan gerak massal pendukung pasangan Kasur yang mengamuk. Tak pelak gedung gubernuran dan DPRD Jagal Timur yang belum sempat direnovasi akibat kerusuhan pertama, menjadi rusak semakin parah, terbakar habis, rata menjadi tanah. Polisi berhasil menangkap 150 pelaku kerusuhan yang diduga otak kerusuhan. Ribuan lainnya tak diusut, sebab pasti akan menghabiskan anggaran kertas dan tinta komputer jika harus membuat berita acara untuk ribuan orang. Apalagi penjara tak akan cukup menampung ribuan orang. Wong korupsi massal di DPRD Sirobonek tahun 1999 lalu hanya menjerat tiga otaknya dan melepaskan 20-an buntutnya, apalagi kasus kerusuhan itu melibatkan ribuan orang?

Singkat cerita, karena ini cerita pendek, 150 orang dibawa ke pengadilan dan masing-masing dihukum setahun penjara. Tak ada upaya banding. Mereka menerima putusan itu. Tapi 150 orang itu tidak kelihatan sedih. Mereka cengengesan seperti Mucalas, Kamarozi dan Imam Danau terpidana teroris di negara Indosa itu. Orang-orang curiga, mengapa begitu? Ketika ada wartawan yang bertanya, mengapa mereka kelihatan tidak bersedih padahal dihukum. Mereka menjawab, ”Kami ini berjihad, membela kebenaran. Kerangkeng besi tak akan mampu mengurung jiwa kami! Biarpun langit menelungkup membekap bumi dan tubuh kami, roh dan jiwa kami tetap bebas merdeka! Dalam kemerdekaan tak ada derita! Dan jika masih ada derita, kemerdekaan hanya tipudaya! Allaahu akbar! Wah, pelaku kerusuhan itu juga ada yang punya bakat menjadi penyair.

Pasangan Ngamar mulai menjalankan tugas. Tak ada demo lagi. Tak ada lagi tanda tanya tentang siapa otak kerusuhan pertama. Tatap masih di kantong Kapolda Jagal Timur. Tak ada lagi media massa yang mengorek-ngorek kasus kerusuhan itu. Isu sosialnya berubah ke arah dugaan korupsi yang dilakukan mantan gubernur Makmum Iatnas. Kok pasti begitu. Di negara Atas Angan memang punya ciri khas korupsi. Jadi pejabat kalau nggak korupsi rasanya badan jadi gatal semua. Tapi para penegak hukumnya juga pejabat yang hobi korupsi. Jadinya lucu, koruptor disuruh memberantas koruptor. Akhirnya koruptor ketemu dengan koruptor. Karena sesama golongan, maka penyelesaian hukumnya ya bagi-bagi hasil korupsi. Situasi seperti itu menjadi berkah bagi para advokat alias pengacara yang lebih banyak ahli menjadi makelar dibandingkan ahli hukum.

Tapi perkembangan kasus dugaan korupsi yang dilakukan Makmum mantan Gubernur Jagal Timur itu sulit diteruskan. Kata Kejaksaan Tinggi Jagal Timur, berdasarkan keterangan para ahli hukum administrasi negara dari Universitas Airlumpur, Universitas Bajulempung dan Universitas Otakcumplung ternyata tidak ada unsur pidananya. Hanya pelanggaran adminsitrasi. Kok persis dengan pendapat SR Balkan, Menteri Kehutanan dalam kasus perusakan hutan di Propinsi Saladna Utara. Repotnya juga, di negara Atas Angan konon pendapat ahli dari para guru besar juga gampang dibeli seperti semudah kita membeli bawang di pasar-pasar. Hanya saja yang bisa membeli pendapat ahli itu mereka yang kantongnya tebal isi uang, bukan isi klobot. Kalau kasus lokal tarifnya Fp. 5 jutaan. (Fp. singkatan Fuluspiah, mata uang Atas Angan). Kalau kasus nasional ya ratusan juta fuluspiah. Itu kaitannya dengan kebiasaan di kampus yang suka jual-beli karya ilmiah, kata Prof. Dufham DM yang juga guru besar hukum itu. Kampus-kampus sekarang menjadi persemaian benih-benih mental korupsi. +++

Hancurnya kantor gubernuran dan DPRD Jagal Timur membuat pemerintahan sementara dijalankan numpang di kantor Kota Sirobonek. Proyek pembangunan pembangunan gedung gubernuran dan DPRD dikebut, tanpa tender sebab dalam keadaan darurat. Hasil telisik wartawan majalah Langgeng menemukan fakta menarik. Ternyata perusahaan yang memegang tender pembangunan gedung pemerintahan Propinsi Jagal Timur adalah PT. Kadut, milik Kaji Alex, yang tak lain adalah sepupu dari H. Kamat, SH yang gagal menjadi gubernur Jagal Timur dalam pemilihan yang dimenangi pasangan Ngamar. Informasi terus diselidiki. Adalah wartawan majalah Langgeng bernama Komir yang menyamar masuk ke ruang-ruang yang tak dipedulikan orang. Di sana ada gelak tawa kemenangan dari orang-orang yang selama ini tampak kalah dalam pertarungan politik. Ternyata mereka tetap memenangkan persekongkolan ekonomi. Komir membuat hipotesa sebelum menurunkan sebagai berita investigatif. Ada dugaan kuat bahwa kerusuhan pertama dan kedua dalam pemilihan gubernur Jagal Timur tersebut sengaja dirancang. Pasangan Kasur dengan Ngamar sudah membuat kesepakatan di lorong gelap bahwa siapapun yang memenangkan pemilihan harus memberikan tender pembangunan gedung gubernuran dan DPRD yang berhasil dihancurkan. Mereka juga bersekongkol dengan para pimpinan polisi di pusat kota Jagal Timur. Ternyata penunjukan langsung PT. Kadut itu merupakan pelaksanaan perjanjian konspirasi itu. Uang negara Atas Angan di Propinsi Jagal Timur pun mengalir ke kantong-kantong mereka. Pantas saja 150 terpidana kerusuhan itu cengengesan. Rupanya mereka juga memperoleh uang bagian dengan cara dipenjara, untuk mengalihkan perhatian dan persepsi masyarakat.

Namun, sebelum Komir sempat menyerahkan data-datanya ke redaksi, ada kabar ia ditangkap polisi dengan tuduhan menyimpan sabu-sabu di dalam tasnya. Komir membantah keras. Ia merasa dijebak. Tapi masyarakat tak tahu apa yang ada di balik semua itu. Komir meronta. Tubuhnya yang cicih diterkam keperkasaan kekuasaan yang tak akan pernah jera untuk selalu membohongi rakyatnya sebab memang negara Atas Angan didirikan dengan dasar prostitusionisme. Inilah negara pasar! Barangsiapa yang ingin makmur sejahtera harus menjual. Jual apa saja. Kekayaan negara harus dijual, tak peduli dengan harga murah. Orang miskin dijual. Anak-anak dijual. Perempuan dan laki-laki dijual. Kalau perlu isteri atau suami dijual. Diri-sendiri dijual. Harga diri dijual. Angin kentut jual! Air kencing jual! Jual semua, jangan ada yang tersisa. Jangan lupa Tuhan, jual! Sebab mereka hidup di pasar. Hanya nilai agama, kejujuran dan moral yang tak laku di pasar-pasar.

Sebulan kemudian ada berita: ”Komir meninggal di ruang tahanan.” Selanjutnya nasib Komir seperti Udin, semakin dilupakan. Sebab Udin dianggap bukan pendekar HAM seperti Munir. Udin bukan penyair aktivis seperti Wiji Thukul. Udin bukan pahlawan buruh seperti Marsinah. Tapi setidaknya Udin masih hidup di jiwa-jiwa yang menemaninya. Udin bukan koruptor atau pembalak hutan yang tenar dalam kematian moral, mati jiwa dalam ketakutan di lorong-lorong persembunyian.

Saya sebagai pengarang cerita ini berdoa, ”Semoga Tuhan tak menggerakkan tanganku untuk menulis: Mayat Komir juga dijual! Ya Allah, ampuni aku! Cerita rombeng (cerbeng) ini akan aku jual.....”

Ohya..., lantas batu akik di awal cerita itu ternyata milik polisi. Akik itu dibeli dari Pak Sularto yang biasa dagang akik di pengadilan. Itu bukan akik milik agen CIA yang sering keluyuran di sini dan meledakkan bom bersamaan dengan bom ikan. Biar ini nggak jadi ’cermus’ atau cerita misterius. ”Lha batu akik itu kini siapa yang menyimpan?” Ingat, ini negara pasar! Ya dijual! Langit mulai menjauh, kian meninggi dari bumi Atas Angan. Ia takut, bisa-bisa akan dijual penguasa Atas Angan, atau dijaminkan sebagai utang di IMF atau World Bank. Hanya matahari yang tak peduli. Ketika langit lenyap maka gunung-gunung es bumi akan mencair, menenggelamkan daratan. Di mana hari itu tak ada lagi tawaran bahtera dari Nuh. Tak ada lagi tongkat Musa yang membelahnya.

Sebab bahtera Nuh dan tongkat Musa tak akan mau datang di negeri pasar. Nanti akan dijual!


Kupersembahkan kepada terutama para pencuri dan pedagang asongan kekayaan negara
. (Surabaya, 24/11/2007).

Tidak ada komentar: