Anti adalah Pro. Anti-penindasan adalah pro-pembebasan. Tapi jika engkau antipenindasan sekaligus antipembebasan atau antikemerdekaan maka kau pro-sikapmu sendiri.
15 September 2008
TJAK LOEMPOER (bagian ke-3)
Baiklah. Meskipun kisah Cak Pur ini tidak akan bagus jika dijadikan lakon Ketoprak Serius maupun Ketoprak Humor, tapi menurut penulisnya tetap dilanjutkan, sebab kadung bin terlanjur diawali.
Pada bagian ke-2 yang lalu, Mas Tur selaku pimpinan eksekutif Kahyangan Saptapratala akan menggugat para dukun peramal yang telah menuduh bahwa kelahiran Cak Lumpur disebabkan gonjang-ganjing yang bersumber dari Saptapratala alias Saptabumi. Sapta atinya tujuh, pratala artinya bumi. Jadi, Saptapratala berada di dalam bumi lapis ke-7.
Nggak tahu kenapa di bumi ini kok suka dengan angka 7. Ada langit lapis ke-7 – orang Jawa bilang langit sap pitu, jumlah hari dalam seminggu juga tujuh. Untuk menunjukkan turun-temurun juga dipakai istilah “tujuh turunan.” Cuman, kalau punya anak tujuh jaman sekarang pasti kelenger, harus kerja keras merawat dan menghidupinya. Tapi laki-laki suka juga kawin tujuh. Anehnya si isteri ke-7 juga happy-happy. Yang belum punya pengalaman mikirnya begitu. Yang sudah berpengalaman ya senyum-senyum, okei-okei...
Kembali ke notebook. Langkah pertama, Mas Tur bertindak untuk dan atas nama Pemerintahan Kahyangan Saptabumi, mengirim somasi kepada para dukun peramal pembawa fitnah itu. Somasinya cukup melalui email, sebab berdasarkan Konvensi Internasional penggunaan teknologi informasi ditentukan bahwa email bisa menjadi alat bukti. Tahun 2001 di Budapest juga pernah ada Konvensi Kejahatan Siber (Convention on Cybercrime). Kebetulan hukum di negara Atas Bumi juga sudah mengakui bahwa email maupun SMS dapat menjadi alat bukti.
Ternyata para dukun peramal itu menggubris somasi Kahyangan Saptabumi. Tapi jawabannya menantang! “Emang lu siape? Jangan mentang-mentang penguasa Kahyangan Saptabumi lantas main somasi! Emangnya kami takut? Siapa takut? Bahkan sebentar lagi kahyangan rongsokan itu akan ditembus bor para penambang minyak dan gas bumi (migas). Kalian pasti akan terusir! Jaman gini kok masih hidup dalam tanah?” Begitulah jawaban para dukun peramal itu via email. Kedengarannya meremehkan Kahyangan Saptabumi.
Malahan para dukun peramal itu pakai lawyer alias pengacara alias advokat. Namanya Buri Kalambi. Siapa ya dia ini? Kalau yang saya tahu di milis Media Jatim itu ada pemilis namanya Rubi Kambali. Apakah Buri Kalambi menyamar di Media Jatim, pakai nama Rubi Kambali ya? Bisa iya, bisa nggak. Tapi sudahlah, itu nggak usah disoal. Malah nambahi misteri.
Dalam jawaban resmi lawyer Buri Kalambi & Co, dinyatakan bahwa para dukun peramal itu telah bekerja sesuai dengan Kode Etik profesi dukun peramal. Saya baru tahu kalau ternyata para dukun peramal punya Kode Etik profesi. Yang namanya profesi itu cirinya: punya wadah organisasi tunggal, mengenai keahlian tertentu yang diperoleh dengan pendidikan khusus, dan merupakan pekerjaan. Jadi, kalau ada berita di koran-koran yang biasa bikin kalimat “si fulan yang berprofesi sebagai tukang becak....dst”, itu salah. Tukang becak itu keahliannya bukan dengan pendidikan khusus.
Yang sengsara tujuh turunan adalah advokat Atas Bumi yang sudah kehilangan ciri profesi sebab sejak Orde Baru hingga kini nggak bisa disatukan dengan satu wadah organisasi advokat. Ribut terus, masing-masing kelompok mau berkuasa seperti partai politik. Kalau begitu pekerjaan para lawyer Atas Bumi itu profesi atau pekerjaan biasa? Ya kalau sudah tidak memenuhi ciri profesi ya sama dengan tukang becak. Kalau begitu lawyer Buri Kalambi itu sama dengan tukang becak? Ya kira-kira begitulah....
Cuma, dalam hidup ini jangan melihat apa bentuk pekerjaan. Tukang becak, pengacara, wartawan, MC, makelar motor, petani, saudagar, di hadapan Allah itu derajatnya tergantung moralnya (ini sih, kata yang pinter agama). “Inna akromakum ‘ingdalloh atqokum. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Alloh adalah yang paling bertakwa di antara kalian!” (Gara-gara bulan puasa, ceritanya ada sisipan begini.)
Kembali ke topik. Mas Tur selanjutnya menempuh langkah kedua, mengajukan gugatan melalui Pengadilan Agung yang ada di Kahyangan Agung. Pengadilan Agung ini dibentuk langsung oleh Raja segala raja. Sang Raja segala raja inilah yang dahulu menciptakan Semar, Guru (Syiwa) dan Togog. Bahannya telur. Tapi bukan telur asin yang biasa dijual di warung-warung. Kalau telur asin ya telur bebek. Ada juga telur asin palsu, bukan telur bebek tapi telur ayam yang cangkangnya dibuat seperti telur bebek. Loh, kok membahas telur?
Konon, telur ciptaan Sang Raja segala raja itu kulitnya menjadi Togog, putih telurnya menjadi Semar dan kuning telurnya menjadi Guru. Semuanya tentu dewa. Hanya saja, Togog diberi tugas menjadi punakawan (kalau di Atas Bumi dilevelkan pembantu) dari tokoh-tokoh wayang golongan kiri, seperti contohnya keluarga Rahwana dalam kisah Ramayana. Semar atau dikenal sebagai Dewa Ismaya ditugasi menjadi punakawan tokoh-tokoh wayang golongan kanan seperti contohnya Pandu, Arjuna dan keturunannya.
Wah repot, kok selalu melebar dari topik ya? Ini penulisnya kok geblek sih?
Setelah gugatan didaftarkan, peradilan pun segera akan digelar. Memang beda pelayanan Pengadilan Agung dengan pengadilan Atas Bumi. Di pengadilan Atas Bumi, panggilan sidang pertama baru bisa dipercepat kalau ada ‘uang dorong’. Kalau dalam jual-beli ada uang muka, uang cicilan, dan uang pelunasan, maka di pengadilan Atas Bumi ada uang dorong dan uang sogok. Di Pengadilan Agung berlaku adagium: “biarpun langit runtuh, keadilan tetap tegak.” Tapi di pengadilan Atas Bumi berlaku adagium: “ada uang ada keadilan. Ada uang hukum disayang, nggak ada uang hukum ditendang.” Loh, kok kayak lagu dangdut? Ya, itulah faktanya.
Sidang pertama gugatan Kahyangan Saptapratala digelar. Di jaman modern, rakyat di seluruh dunia bisa menonton sidang melalui stasiun TV yang khusus menayangkan sidang-sidang pengadilan. Namanya J-TV alias Justice TV. Jadi, yang ditayangkan khusus proses peradilan yang lengkap dengan analisis dari nara sumber para ahli hukum serta para pencari keadilan dan masyarakat penilai (Wah ini bisa jadi akan dicontoh perusahaan media?). Jadi, orang nggak perlu datang berbondong-bondong ke pengadilan menonton sidang, kecuali kalau tujuannya berdemo ataupun justice tourism (wah ada lagi cabang wisata baru nih...?).
Melalui J-TV (Justice TV. Ini bukan JTV punya Grup Jawa Pos lo ya!), dalam tayangan sidang perdana ini memang tampak lawyer Buri Kalambi yang..... keren abis .... Waduh, para asistennya kok banyak cewek cakepnya ye? Ya itu emang model kantor-kantor hukum sekarang. Cewek cakep selalu menjadi ‘alat promosi’ yang menarik pelanggan. Maaf ye, bukan maksudku mencemarkan nama baik! Cowok keren juga banyak yang jadi bintang iklan. Tapi ada juga iklan jamu kuat pakai model kakek-kakek. Siapa ya namanya itu? Mbah ...... ah nanti tulisan ini dikira iklan. Tahu sendirilah!
Sedangkan Kahyangan Saptapratala pakai pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Antiklenik. Wah, hebat juga ya. Kahyangan bersekutu dengan lembaga hukum antiklenik. Biasanya kahyangan itu isinya banyak klenik. Barangkali Kahyangan Saptabumi sudah melakukan revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
Lagipula, siapa sih yang tahu klenik-klenik semacam roh dan gaib-gaib begitu? Nabi Muhammad aja diajari Tuhan dalam surat Al-Isra’: wa yas-aluunaka ‘anir-ruh, quli ruhu min amri robbi. Wamaa uutiitum min ‘ilmi, illaa qoliilaa. “Dan jika kamu ditanya soal roh, maka katakan (jawablah) bahwa roh itu urusan Tuhanku. Dan kamu tidaklah akan diberikan pengetahuan melainkan sedikit saja.” Sedikit saja. Jadi, kalau ada orang yang ngaku-ngaku banyak ilmunya tentang roh, klenik-klenik, yaaah.... silahkan saja percaya atau tidak. Soal keyakinan, kita free-free aja man! Kalau saya meski orang ndeso, percaya saja sama setan. Masak setan nggak percaya diri-sendiri? Kakakakak.....
“Sidang dibuka, dan terbuka untuk umum! Dok!” Ketua Hakim membuka sidang. “Dok!” itu maksudnya bunyi meja sidang digetok palu. Jangan dikira hakimnya memanggil dokter!
“Pihak penggugat dan tergugat sudah sama-sama hadir?” tanya Ketua Hakim. Tampak aura wajahnya moncer sebagai wakil Tuhan di bidang keadilan. (Kalau hakim-hakim di negeri Atas Bumi kebanyakan sorot matanya ijo. Tak kalah ijo mata lawyer, jaksa dan polisi. Mending mereka bikin klub Green Eyes. Keren kan?)
“Penggugat hadir diwakili oleh kuasanya Yang Mulia,” jawab lawyer LBH Antiklenik. Pengacara muda ini namanya Joko Adil. Mudah-mudahan dia tidak sedang pelatihan hukum. Soalnya, banyak para lawyer tenar yang pembela koruptor kakap-kakap, pembela pelanggar HAM berat, dahulunya mereka ya lawyer LBH-LBH gitu. Setelah pinter-pinter, mereka maunya komersiil melulu.
Kasihan juga rakyat kecil tertindas, hanya dibela oleh para pengacara muda yang baru, lagi training, atau magang. Hanya jadi bahan mencari popularitas. Mana ada kasus-kasus rakyat kecil yang dibela para advokat senior? Dalam kasus lumpur Lapindo juga nggak ada advokat senior yang mau turun gunung. Malah para advokat yang dahulunya pejuang HAM menikmati membela Lapindo dan konco-konconya. Ada juga sih advokat senior hanya mau turun kalau kasusnya ramai menjadi perhatian umum, asal tidak melawan korporasi kaya, yaitu: kasus dugaan “salah tangkap” yang terkuak dan terkenal di media yang berkaitan dengan kasus Ryan itu. Yah... popularitas lagi, asal tidak melawan kekuasaan uang...
Lha yang lucu kan contohnya kasus Buyat Sulawesi Utara itu. Pembela Newmont itu lawyer pensiunan LBH ibukota, melawan pengacara penggugat yang juga pengacara LBH. Ini terulang dalam peradilan kasus lumpur Lapindo. Senior ketemu yunior, sama-sama dari satu lembaga. Walah kacok, eh, kocak!
Dahulu, semangat lawyer muda kelihatan menggebu: “Lawan pencemar dan perusak lingkungan! Lawan pelanggar HAM! Lawan koruptor! Lawan penindas!” Weleh... hambelgedhes ono bedhes mangan kates nang Tretes, banyune ketes-ketes, entute ngewes, cocot nyepres ning kecewes..... (stop!). Setelah tenar berbalik malah membela perusak lingkungan, pelanggar HAM berat dan koruptor kakap-kakap. Ada juga pendekar pers yang dahulunya menggebu-gebu bicara tentang kemerdekaan pers, yang kemudian berbalik disewa korporasi penggugat pers. Maka muncullah syair: “Maju tak gentar, membela yang bayar...” Tak ada ideologi yang penganutnya paling banyak, melainkan uangisme alias fulusisme. Tak ada jenis agama yang paling banyak pemeluknya, kecuali moneytheism (meminjam istilah di buku Prof. Daniel C Maguire, Sacred Energy).
Kembali ke topik. Ini cerita melebar ke mana-mana jika tidak distop dulu....
Dalam adegan sidang pertama kasus gugatan Kahyangan Saptabumi kepada para dukun peramal itu tampak lawyer Buri Kambali celingukan melihat ke lantai. Apa uangnya terjatuh? Apa sedang melihat tikus lewat? Atau, rokoknya jatuh? Atau jangan-jangan sepatunya keliru sepatu cewek?
Nanti akan bersambung di bagian ke-4. See u later!
10 September 2008
TJAK LOEMPOER (Bagian 2)
Cak Lumpur alias Cak Pur hingga hari ini tak tertandingi. Benteng-benteng terus diperkuat dan diperluas.
Kasus itu terdengar sampai ke Saptapratala. Ternyata kisah Cak Lumpur bagian pertama yang diposting di milis Media Jatim itu dibaca oleh keluarga besar Saptapratala di dalam bumi. Maklum, jaman modern ini internet juga sudah sampai ke kahyangan dalam bumi. Bahkan cacing tanah, gayas, dan hewan-hewan dalam tanah lainnya sudah banyak yang mahir menggunakan internet.
“Ini penulis cerita Tjak Loempoer kok goblok ya! Namanya Cak Bagio, omongannya terkenal ngawur di internet! Masak, ngomong silsilah Dewa Antaboga punya anak Nagagini, lalu Nagagini dikawin Bima, kok tiba-tiba menyebut nama Gatutkaca? Lha Gatutkaca alias Gatotgelas itu kan anak hasil perkawinan Bima dengan Arimbi, raksasa wanita yang cantik gara-gara sering pake lumpur Lapindo untuk spa?” Begitu protes keturunan Antareja garis derajat ke 2.657 (duaribu lebih). Dia bernama Ananto Turun Antaboga, atau biasa dipanggil Mas Tur (bukan Mastur lo!).
Saya sebagai penulis cerpur ini ya kaget to, lha wong tiba-tiba mendapatkan surat somasi dari Mas Tur, berstempel Kahyangan Saptapratala. Wah, deg-degan saya. Deg-degan bukan karena seperti lagu Jawa-nya Pak Manthos gara-gara melihat cewek yang membuat jatuh cinta itu. Tapi deg-degan karena seumur-umur baru kali ini saya mendapatkan perhatian dari Kahyangan Saptapratala. Biasanya yang protes saya paling-paling tukang becak gara-gara motor saya yang jelek itu malang-megung di pinggir jalan, atau mbokne arek-arek yang protes, nagih utang ke saya karena dua bulan bon gajinya nggak kunjung saya bayar. We lha kali ini aku berurusan dengan Mas Tur keturunan Dewa Antaboga itu.
Untuk menghormatinya, saya minta maaf. Melalui email saya jelaskan bahwa saya menyebut nama Gatutkaca itu kan tidak berarti mengaburkan silsilah Dewa Antaboga. Saya dulu kan nulis: Antaboga itu ayahnya Dewi Nagagini yang dikawini Bima orang tua Gatutkaca. Lha ya jangan lantas ditafsir bahwa Gatutkaca itu anak hasil perkawinan Nagagini dengan Bima! Ya nggak gitu dong! Masak nggak gitu lah? (“Kan buah kedondong, bukan buah kedonglah?” tanya Megakarti).
Tapi salah saya juga ya. Kadang menempatkan kata yang kurang perlu ya bisa menimbulkan tafsir yang keliru. “Cuman Mas, saya juga mengingatkan, tolong jangan memelesetkan nama Gatutkaca menjadi Gatutgelas ya! Sebab Gatutkaca itu tokoh wayang idola saya. Perlu Mas Tur tahu, bahwa saya ini berasal dari Pringgondani juga. Jadi saya rakyat Pringgondani yang mana seperti Mas Tahu kan, Gatutkacara itu raja Pringgondani?” begitu penjelasan saya melalui email.
Tampaknya Mas Tur bisa menerima penjelasan saya. Hanya saja yang masih membuatnya jengkel adalah isu para dukun peramal yang berkembang yang mengatakan bahwa Cak Pur itu terlahir dari dalam bumi gara-gara kejadian yang bersumber dari Saptapratala. “Itu mencemarkan nama baik Kahyangan Saptapratala!” kata Mas Turun Antaboga alias Mas Tur dengan nada tinggi, suaranya membelah kesunyian langit, merontokkan kerak-kerak jaman yang semakin tua ini.
Sementara ini Sang Dewa Antaboga tetap beristirahat dengan tenang. Terpaksa Kahyangan Saptapratala harus dibuatkan banyak kipas angin dengan tenaga listrik geothermal. Bocornya lapisan ozon ditambah dengan efek rumah kaca serta kelakuan manusia yang ngudal-udal hidrokarbon dalam bumi untuk dibakar di atas bumi telah membuat bumi menjadi semakin panas. Global warming. Peringatan global (global warning) tak membuat reda keserakahan manusia yang lebih memanjakan nafsu binatangnya dibanding memikirkan masa depan anak cucu cicit mereka. Konsumsi energi terbesar di dunia telah membuahkan 20 persen penduduk bumi yang menguasai 80 persen pendapatan dunia dan menimbulkan kerusakan lingkungan hidup yang amat parah di mana-mana.
Dewa Antaboga menginstruksikan agar Kahyangan mengembangkan teknologi pendingan ruangan yang tidak merusak lapisan ozon. Apa bisa? Ya harus diusahakan bisa!
Kembali pada kejengkelan Mas Tur, keturunan Dewa Antaboga yang diberikan wewenang menjadi pimpinan eksekutif Kahyangan Saptapratala.
“Jika tak ada kesadaran. Jika tak ada permintaan maaf kepada Saptapratala yang difitnah sebagai penyebab lahirnya Cak Pur yang merajalela itu, Saptapratala akan menggulung habis fitnah itu. Para dukun ramal dan para pembayarnya akan kami kutuk menjadi ular-ular berkepala cacing! Mereka tidak tahu bahwa gerak bumi Saptapratala dan lainnya hanya mengikuti kehendak Tuhan dan ulah para manusia. Jika manusia telah mengeluarkan kandungan bumi secara tak terbatas, maka bumi yang kosong akan diisi oleh bagian bumi lainnya. Maka bergeraklah bumi. Tetapi jangan sekali-kali menuduh itu sebagai penyebab, karena itu juga bagian dari akibat!” begitu ancaman Mas Tur, yang pernah menolak diusulkan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Dunia karena takut ikut-ikutan arus korupsi.
Singkat cerita, para dukun peramal ada yang sadar. Tapi masih ada juga yang tetap mencari alasan ke sama ke mari meskipun semuanya itu hanya ‘kira-kira’ ‘kiri-kara’, ‘kara-kara’ dan ‘kari-kari’. Artinya, pokoknya dikira-kira saja, ngawur secara ilmiah juga nggak ada banyak yang paham, soal dasarnya bisa dikira-kira dan dicari kari-kari. ‘Kari-kari’ itu bahasa Jawa, artinya: belakangan. Mereka juga sudah siap untuk dibawa ke pengadilan. Yang penting uangnya juga siap.
Hukum adalah uang. Keadilan juga uang. Hukum bertujuan untuk keadilan. Artinya, uang dipakai untuk tujuan mendapatkan uang. Makanya, di negara ini hukum menjadi modal untuk memperbanyak harta kekayaan. Menjadi investasi. Jadi, hukum juga sama dengan modal atau kapital. Maka, pemilik kapital adalah pemilik hukum. Lo, pas to? (Masak pas ti? Kan laki-laki bernama Suparto, bukan Suparti?).
Baiklah. Untuk bagian kedua ini cukup sekitar 5.000 karakter dulu (dengan spasi). Kerjaan masih banyak kok nulis cerita melulu. Wong disuruh bikin draft petisi sama Guk Prigi aja masih bingung mulainya. Iya kan? (Masak iya kin? Kan yang enak makan, bukan makin?).
Pada dasarnya, setelah itu Kahyangan Saptapratala akan membawa kasus fitnah yang menimpanya itu ke Pengadilan Tuhan Sang Raja dari segala raja. Kahyangan Saptapratala tidak terima jika dituduh sebagai penyebab kelahiran Cak Pur.
Sampai ketemu di babak berikutnya..... !
26 Agustus 2008
Cerpur = Tjak Loempoer (Bagian 1)
TJAK LOEMPOER (Bagian 1)
TJAK Loempoer. Ejaan lama. Sepertinya tulisan jaman VOC menguasai Indonesia yang masih belum bernama Indonesia? Bukan! Jaman VOC masuk ke Indonesia, orang pribumi belum kenal ejaan latin. Mungkin itu tulisan tahun 1908-an, ketika mulai ada beberapa pemuda elite Indonesia yang sekolah ke Belanda. (Wuah..., penjajah juga memberikan akses pendidikan kepada para calon pelawannya ya? Iya iyalah, seperti korporasi perusak nasib manusia juga mengeluarkan dana untuk tambahan nafkah dan biaya pendidikan masyarakat). Tapi yang jelas, Tjak Loempoer itu konon lahirnya belum begitu lama. Panggilannya Tjak Poer.
Baiklah, daripada susah-susah, aku tulis saja dengan ejaan baru: Cak Lumpur, biasa dipanggil Cak Pur. Ia seperti Gajah Mada atau Untung Suropati yang gelap asal-usulnya, bahkan akhir hayatnya pun menjadi misteri. Tapi hanya sedikit orang tertarik memperdebatkan asal-usul dan kematian Gajah Mada serta Untung Suropati.
Namun yang tetap menyedihkan saya adalah masih bertahannya para dukun tukang ramal yang masih dipercaya banyak orang, iklan-iklannya tersebar di koran dan majalah. Dukun moderen juga punya website, mahir berinternet, mengalahkan para polisi pada umumnya yang masih gagap teknologi informasi. Banyak korban para dukun yang beraksi melalui dunia maya tetapi para polisi pun tak mampu mengarungi dunia pelarian para e-dukun (singkatan electronic dukun). Lalu apa hubungannya dengan Cak Pur?
Para dukun tukang ramal membuat kesimpulan bahwa asal-usul Cak Pur adalah dari dalam bumi, masih keturunan Bathara Antaboga. Wuih.... apakah masih ada garis silsilah dengan Dewi Nagagini yang dikawini Werkudara alias Bimasena, orang tua kandung Gatutkaca? Bahkan para dukun itu sayangnya tidak paham silsilah keturunan Antaboga, dewa yang berbadan ular dan berkepala manusia itu (bukan manusia berkepala ular.
Dalam kisah yang dibuat para e-dukun peramal itu, konon kelahiran Cak Pur bukan dari lubang yang digali oleh manusia, tapi karena retaknya perut bumi akibat kemarahan Dewa Antaboga yang meluluh-lantakkan permukaan bumi. Banyak orang bertanya, mengapa keluarnya berada di jarak 250 kilometer dari kahyangan Saptapratala, kahyangan Antaboga? Mengapa tidak lahir saja di dekat-dekat kadewatan alias kahyangan Saptapratala alias Saptabumi?
“Wah, itu tak bisa dijawab dengan menggunakan akal awam. Ada garis penghubung kasat mata yang bisa ditarik antara Saptabumi dengan bumi kelahiran Cak Pur di Desa Pojok Garong,” jawab para dukun itu sambil menunjukkan gambar-gambar, persis cara-cara ahli geologi dalam menjelaskan peta geologi. (Desa Pojok Garong ini konon juga tempat lahir nenek moyang kucing yang biasa disebut Kucing Garong).
Cak Pur menjadi berita besar sebab ia menjadi masalah besar, lebih besar dibandingkan Cak Ryan yang terkenal sebagai pembunuh sadis dari Jombang itu. Cak Pur dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya telah menyingkirkan puluhan ribu manusia dari empat desa dan sepuluh desa lainnya telah diracuninya.
Banyak orang takut kepada kekuatan Cak Pur ini. Polisi, jaksa dan hakim tunduk. Para pejabat pemerintahan tak berani banyak bicara dengan Cak Pur. Jika biasanya polisi dan tentara di jaman Orde Baru terampil dalam menghalau dan membubarkan demonstrasi ratusan penduduk dan bahkan menembakinya, tapi Cak Pur bisa menghadapi sendiri kekuatan keamanan dan pertahanan negara itu. Tak heran jika muncul para dukun yang pernyataan-pernyataannya laris dikonsumsi masyarakat. “Cak Pur adalah kekuatan magis yang tak dapat dihentikan dengan teknologi apapun,” kata para dukun elektronik (e-dukun) itu. “Kita sedang bicara kekuatan sakral,” lanjut mereka.
Kiprah ‘kejahatan’ Cak Pur itu ternyata menimbulkan bau tidak sedap. Banyak pertanyaan tentang mengapa kekuasaan negara tak mampu menghentikan kiprah Cak Pur itu. Konon sebenarnya gampang saja menghentikan kekacauan yang dilakukan Cak Pur. Ada kelompok pendekar yang sesbenarnya kapasitasnya tak pernah diragukan lagi. Para pendekar ini bahkan pernah secara langsung meneliti tempat kelahiran Cak Pur. Mereka punya data primer. Mereka berkesimpulan bahwa Cak Pur itu lahir akibat perselingkuhan antara oknum pejabat dengan seorang perempuan blesteran keturunan campuran Indonesia-Australia.
“Jadi, Cak Pur itu bukan keturunan Dewa Antaboga. Kami punya buktinya. Salinan Akte Kelahirannya ada di kami. Jika kami tidak bisa membunuh Cak Pur si penjahat itu maka silahkan kami dipenjara!” kata salah satu pendekar yang tergabung dalam Gabungan Pendekar Pelawan Klenik (Gapenik). “Ya. Kami sudah berpengalaman menghabisi orang-orang sejenis Cak Pur itu di Aceh, Subang dan bahkan di tengah-tengah hutan belantara,” imbuh salah satu anggota Gapenik. Kisah yang dikatakan para anggota Gapenik itu memang nyata, bukan fiksi.
Entah fitnah atau benar bahwa konon pemerintah telah dibohongi oleh para e-dukun yang mengandalkan klenik. Konon dengan semakin leluasanya kiprah Cak Pur itu maka banyak teman-teman kelompok e-dukun yang diuntungkan karena biaya-biaya pengamanan masyarakat dan pencegahan jatuhnya korban yang dikeluarkan pemerintah akan mengalir terus memasuki kantong-kantong para manusia tukang tega, seperti halnya para wakil rakyat yang tega memakan uang negara di atas banyak derita rakyat yang diwakilinya yang menurut versi Wolrd Bank 49 persen miskin. Benteng-benteng dibangun dengan alasan memperlambat gerak Cak Pur dan kekuatan magisnya sehingga anggaran untuk proyek keluar terus. Sementara satu persatu korban berjatuhan, tidak menjadi bahan pemikiran para e-dukun dan pihak-pihak yang berkonspirasi dengan perusahaan-perusahaan jasa pembuatan benteng, pengamanan sosial dan lain-lain. Konon para e-dukun itu juga berkonspirasi dengan orang tua asli Cak Pur yang bersembunyi. Konon ayah dan ibu Cak Pur yang sudah tua-tua terus berusaha membayar pihak-pihak untuk meyembunyikan akte kelahiran Cak Pur. Mereka kuatir jika ketahuan maka akan dimintai pertanggungjawaban. Konon. konon, konon.... saya sempat mau muntah mendengar konon-konon itu.
Para korban Cak Pur yang telah terusir mulai gerah sebab proyek-proyek pemerintah yang konon untuk menyelamatkan nasib mereka tapi tak kunjung bisa menyelamatkan nasib para korban. Bahkan mereka tampaknya hanya dianggap obyek proyek. Kemarahan mulai terjadi di mana-mana. Sampai tulisan kisah ini dibuat, situasi semakin kurang baik. Mulai ada ancaman Kepala Polisi yang akan memenjarakan para korban jika terus marah-marah. Mulai ada para korban yang menenggak minuman keras dari uang pemberian antek e-dukun, lalu dipancing untuk berbuat onar.
Siang ini matahari masih tegar menjalani takdir dengan menatap bumi yang semakin tua dan sedih. Para tukang becak di dekat kantor saya pada mengantuk menjalani takdir hidup di negara yang kekayaan alamnya melimpah-ruah.
Saya cukupi dulu cerita ini. Besok-besok inyaAlloh saya sambung lagi.
Surabaya, 27 Agustus 2008
14 Maret 2008
Cerpen: Pemerkosaan Di Negara Atas Angan
Hanya segumpal awan yang tampak, makanya tak mampu menghadang terik matahari yang membakar siang galau. Di Kepolisian Negara Atas Angan, perempuan separoh baya bernama Partiwi sedang melaporkan peristiwa perkosaan atas dirinya.
“Siapa yang memperkosa Ibu? Di mana, jam berapa, hari apa, ada berapa orang, apa Ibu kenal mereka, ciri-cirinya bagaimana ..... ?” Polisi penyidik memberondong pertanyaan sambil sekali-kali berkacak pinggang memamerkan kegagahan.
“Banyak. Mulanya tampak manusia yang pernah kulihat meski aku tak kenal. Tapi begitu mencengkeram dan menggilir tubuhku, mereka menjadi anjing dan babi-babi dengan,... ah ....” Terhenti. Partiwi ingat mulut anjing-anjing dan babi-babi yang memperkosanya berlumuran air liur busuk yang menetes-netes.
“Ayo dong Bu! Jangan bergurau! Kerjaan saya banyak, bukan melayani Ibu saja! Jangan ngarang cerita seperti film horo ah!” Penyidik itu marah-marah sambil mondar-mandir. Tak lupa membuang puntung rokok, peracun manusia yang diperdagangkan itu.
“Lha memang begitu Pak. Saya tidak bohong.”
“Ah! Jaman modern masih ada klenik seperti itu? Lagipula hukum berlaku untuk manusia, tak bisa digunakan menjerat anjing dan babi!” Polisi itu meninggalkan Partiwi tanpa pamit.
Setengah jam Partiwi menunggu polisi itu kembali. “Gimana? Ibu masih mau cerita seperti itu lagi?” tanya polisi itu agak sinis.
“Okelah Pak kalau Bapak nggak percaya!” Partiwi membuka bajunya di dalam kantor polisi itu. Semua orang di dalam ruangan itu tersedot oleh pemandangan tubuh Partiwi yang penuh luka dan bopeng-bopeng.
“Oke,oke, oke ... cukup Bu!” bentak penyidik itu.
“Bagaimana?” tanya Partiwi.
“Meskipun leher Ibu putus, tapi kalau yang memutuskan anjing dan babi, undang-undang tak bisa menjerat anjing dan babi. Hukum hanya bisa menghukum manusia. Hukum tak bisa menghukum binatang! Kalau mau dipaksakan, hakim pasti akan membebaskan binatang! Saya sudah jelaskan dan Ibu tetap tak paham!”
***
Gagal usaha Partiwi kali ini.. Ia sendiri. Kadang-kadang ada gerombolan anak-anak yang peduli, berdemo mendukung Partiwi yang dahulu memang dikenal dermawan. Tapi disorot media massa, diistilahkan: “Pendemo dadakan. Tak ada yang mendanai maka hanya demo sepotong!”
Partiwi mendatangi gedung parlemen Atas Angan agar memperjuangkan nasibnya. Tapi gedung itu juga mulai dipenuhi dengan manusia-manusia berkepala babi dan anjing. Tak ada lagi tema soal perkosaan Partiwi di dalam gedung parlemen seperti yang pernah ada sejak pengaduan Partiwi. Konon ada Raja Anjing dan Jenderal Babi yang datang ke gedung parlemen membawa berkarung-karung upeti. Kalau para anggota parlemen Atas Angan kepalanya berubah menjadi anjing dan babi, mungkin saja tertular virus Raja Anjing dan Jenderal Babi yang konon dahulunya juga manusia biasa. Partiwi mulai paham bahwa para pemerkosa dirinya ternyata dilindungi Raja Anjing dan Jenderal Babi.
Tak ada kata putus asa. Partiwi membawa kasusnya ke Pengadilan Pusat Atas Angan. Ia berharap ada sisa manusia sejati, hakim yang imun, yang tak akan terserang virus keanjingan dan kebabian yang kini mulai merebak di negara Atas Angan. Sayangnya hanya beberapa orang yang bisa melihat itu. Bahkan para dokter juga mulai tertular.
Sidang pertama gugatan Partiwi digelar. Tergugatnya adalah Kepala Negara Atas Angan yang dianggapnya tak mampu mengamankan negara sehingga Partiwi menjadi korban pemerkosaan manusia-manusia tertular penyakit keanjingan dan kebabian. Gugatan juga meminta agar Kepala Negara Atas Angan memerintahkan Kepolisian mengusut kasus pemerkosaan terhadap Partiwi.
Namun Partiwi mulai ragu, sebab ia melihat seorang hakim anggota majelis, panitera dan pengacara Negara Atas Angan juga tampak berkepala babi. Ia juga melihat lalu-lalang para petugas pengadilan dan para pengacara yang berkepala anjing dengan ciri khas mulut berlelehan air liur.
“Saudari Penggugat kami ingatkan. Yang memperkosa Saudari, yang Saudari sebut di surat gugatan ini adalah manusia-manusia yang berubah menjadi anjing dan babi. Lalu Saudari menggugat Kepala Negara. Nanti jangan-jangan kalau Saudari kehilangan celana dalam maka Kepala Negara juga akan Anda gugat?” serang pengacara Negara sambil tersenyum-senyum. Tak pelak pengunjung sidang tertawa terbahak-bahak.
“Tenang! Tenang!” bentak Ketua Majelis Hakim. “Nanti Saudara kuasa hukum Kepala Negara punya waktu menjawab gugatan. Kami tidak mengijinkan ini dijadikan bahan guyonan!” Ketua Hakim memalu meja sidang dengan keras, suaranya hendak meruntuhkan tembok pengadilan. Ruang sidang pun senyap.
“Kami memberi waktu untuk mediasi. Apakah Penggugat dengan Tergugat mau memilih mediator dari luar, atau yang disediakan pengadilan ini?” tanya Ketua Hakim.
“Maaf Yang Mulia. Kami hanya mau berdamai kalau gugatan itu dicabut. Itu saja,” jawab pengacara Negara.
“Saya juga tak akan mencabut gugatan Pak Hakim!” sergah Partiwi.
“Baik, kalau begitu berarti ini tak ada peluang perdamaian? Tapi kami memberi waktu dua minggu agar kalian berunding. Kalau bisa selesaikan secara perdamaian. Pak Pengacara, Anda jangan buru-buru begitu! Konsultasikan dengan Kepala Negara dulu!” saran Ketua Hakim.
Empat bulan peradilan gugatan Partiwi berjalan. Terakhir koran-koran membuat judul berita yang macam-macam. Ada judul “Pengacara Negara Mati Kutu!” Ada yang membuat judul: “Pengacara Negara Dinasihati Hakim.” Ada judul “Kepala Negara Diambang Kekalahan!” “Partiwi Mendapatkan Keadilan.” Dan lain-lain. Semua itu membuat Partiwi agak lega. Jika gugatannya dimenangkan, berarti pemerintah Atas Angan akan diperintahkan pengadilan agar menyelidiki dan mengusut serta menghukum para pemerkosa Partiwi.
Sidang putusan digelar. Partiwi duduk di kursi Penggugat dengan dada berdegup kencang. Majelis Hakim masuk ruangan dan duduk di kursi kekuasaan mereka. Dada Partiwi mulai sesak. Jika dahulu ia melihat ada satu hakim yang berkepala babi, kini ia melihat semua anggota dan Ketua Hakim berkepala babi. Itu tanda-tanda kekalahannya. Benar, akhirnya gugatan Partiwi dinyatakan tidak diterima dengan alasan bahwa Kepala Negara Atas Angan tidak boleh digugat dalam kasus perkosaan. Yang boleh digugat hanyalah para pemerkosanya. Padahal yang digugat Partiwi adalah soal tanggung jawab negara dalam mengamankan rakyat serta penolakan Kepolisian Atas Angan untuk menyidik kasusnya.
Konon, ada para utusan Raja Anjing dan Jenderal Babi yang datang ke masing-masing rumah para hakim yang mengadili gugatan Partiwi, membawa upeti. Lagi-lagi terjadi penularan virus penyakit keanjingan dan kebabian.
***
Beberapa anak muda menjenguk Partiwi yang tergolek di atas tempat tidur. Suhu badannya semakin panas. Luka-luka dan bopeng-bopeng tubuh Partiwi tak terobati, sebab setiap dokter yang didatangi berkepala babi dan anjing. Rambut Partiwi semasa muda lebat, anggun dan sejuk dipandang. Kini mulai rontok-rontok dan kulit kepalanya tampak di sana-sini.
Langit seolah tahu kesedihan itu sehingga mulai retak-retak. Kawanan awan yang biasanya riang menghantarkan hujan kini sering menangis dan kadang-kadang melenyapkan diri ke dalam angin puting beliung yang memporak-porandakan rumah-rumah penduduk. Angin pun tak seramah dahulu. Udara mulai muram. Tanah-tanah enggan menumbuhkan benih-benih yang ditanam para petani. Api sering marah berkobar menghanguskan rumah-rumah, gedung, sebab sering disuruh melalap hutan.
“Anak-anak, jika saja di bumi ini semakin dipenuhi manusia-manusia anjing dan babi akibat virus penyakit keanjingan dan kebabian itu, maka bukan aku saja yang akan seperti ini. Setiap Partiwi di muka bumi ini akan menderita seperti ini. Akan banyak Partiwi menjadi korban pemerkosaan. Kalian pun kelak jika tidak tertular penyakit itu, juga menjadi korban seperti ini. Aku ingin para pemerkosaku itu ditangkap dan dihukum agar tak ada lagi kejahatan seperti itu. Namun ternyata justru para penegak hukumnya sendiri telah tertular virus keanjingan dan kebabian. Maka mereka juga menjadi bagian dari pemerkosa itu.” Tubuh Partiwi yang semasa muda tampak molek dan indah, kini terlihat kurus layu.
Partiwi tersenyum pahit, memandang anak-anak muda yang membesuknya. Tiba-tiba sinar kemilau datang dari langit mengangkat tubuh Partiwi. Partiwi melebur ke dalam sinar itu, membias, memencar, bersatu dengan alam. Hari itu adalah hari kemoksaan Partiwi, ketika gunung-gunung es di kutub bumi mulai bergeser dan iklim mengalami kekacauan, bencana alam muncul di mana-mana. Panas tubuh Partiwi menjadi pertanda semakin panasnya bumi, ketika banyak manusia yang menderita penyakit keanjingan dan kebabian dengan nafsu birahi kekayaan, kekuasaan yang semakin berkobar-kobar, merontokkan gunung-gunung, memporak-porandakan isi tanah, menyemburkan lumpur panas, menumbangkan pepohonan hutan yang menjaga ketentraman mata air yang bening, menumpahkan racun nafsu ke sungai-sungai hingga mengalir ke laut. Hukum yang dibuat tak mampu mencegahnya sebab hukum tak berlaku bagi anjing dan babi.
Bumi bergolak, meronta, tak sekedar meraung dalam tangis, tapi menjerit pilu. Semakin lama semakin tak ada manusia. Bumi semakin dipenuhi anjing dan babi. Kelak, bumi akan tergenang air bah. Tak ada lagi Nuh yang menawarkan bahtera. Kelak, lautan akan bergolak. Tak ada lagi Musa yang membelahnya dengan tongkat. Manusia menghancurkan diri mereka sendiri.
Surabaya, 14/3/2008
31 Januari 2008
Syair Bandit Kecil
Kemarin kita bertemu di Tanah Abang
Membicarakan berapa bagian masing-masing
Memang, tak ada perjanjian yang terang
Tapi bukankah kita ini saudara seanjing
Hidup di atas tikar etika yang miring
Dipimpin para imam bermata juling
Kemarin kita juga pergi ke Tugu Monas
Menyetubuhi perempuan tak berkelas
Sungguh nikmat beralas koran bekas
Sambil menertawakan derita tanpa batas
Hari ini, katanya kita menanggung dosa
Kita banyak dihina dan dicerca
Katanya, kelak kita akan masuk neraka
Baiklah, kita tak dapat membayar pengacara
Kita akan membela diri dengan asal bicara
Kita memang bandit
Tapi kita tidak pernah mengambil kredit
yang menjadikan nasib orang banyak sebagai agunan
sehingga menebarkan segala penderitaan
Kita yang menjadikan negara sebagai pelacur?
Kita yang membuat harga diri bangsa menjadi babak-belur?
Hai Tuhan yang memberi dosa!
Bagaimana Kau memberi makan pelacur jalanan?
Yang dengan tersedu-sedu telah menjual dirinya
Hanya untuk mempertahankan hidup yang Kau berikan
Hai Tuhan yang punya neraka!
Bagaimana kau memberi makan orang melarat?
Yang menahan derita dalam kejaran lapar
Hanya untuk mempertahankan hidup yang Kau berikan
Andainya saja negara ini tak dijadikan pelacur
Hidup kami tak perlu hancur
Besok kita akan bertemu di plasa-plasa
Untuk sedikit mencopet dompet orang kaya
Hanya untuk makan sekedarnya
Tidak sampai untuk bisa membeli sepeda
Apalagi sampai merugikan negara
Yah, kita mungkin tetap akan mencuri
Toh jika kita ditangkap para polisi
Kita tidak akan diadili oleh pengadilan tindak pidana korupsi
Tempat para bandit berdasi.
Jika kelak kita menjabat, kita juga korupsi.
Tanpa henti!
Surabaya, 23 Oktober 2004.
18 Januari 2008
Takaran Hidup
Hati-hati,.. sibak sedikit rerimbun bunga itu..!
Jangan sampai daunnya rontok, atau tangkainya patah..!
Hela nafas, sentuh kedalaman udara
ya, benar kita tak bisa hidup tanpanya
berapa yang bisa kita rindu..
sebatas apa tirai tersentuh
padahal belum terbuka.
Kamu lupa dengan janjimu
untuk menengok aku di lembah berbatu
langitmu tertutup awan putih bergumpal
sorak-sorai para peri menjadi gemuruh hitam
bah tertumpah, aku tenggelam
aku masih hidup, tapi mendung masih hitam
Bunga yang kusayangi hanyut lenyap
Aku bisa menanamnya lagi yang baru, tapi harus menunggu
Kamu tak akan mampu menunggu
sebab kamu di belakangku, membatu.
Kedatanganmu di tempatku: lembah berbatu,
bukan karena kemauanmu, tapi sebab banjir itu.
Baiklah,... tinggal berapa hidup kita?
Mari kita takar dengan kaleng bekas tempat susu ini.
Bekas para ibu menipu bayi-bayinya.
Bekas para bapak yang menjadi panitia.
Panitia kehancuran dunia.
(Wah, bunga yang kutanam sudah bermekaran.
Aku akan menjaganya,
jangan ada yang menjadikannya penghias pusara.)
Berapa harga hidupmu per-kaleng susu 1.000 gram-an?
Ayo takarlah! Nanti kita tawarkan di pasar!
Hidupku gratis, jadi tak perlu kutakar.
Benar, aku (tidak) bohong.
Tanya bunga itu jika tak percaya!
Sebelum langit runtuh.
Atau tak perlu.
Tak perlu!
Tak ada gunanya bagimu.
Surabaya, 19/1/2008.
15 Desember 2007
Cerkol = Cerita Kolor Ijo
Soal kolor ijo[1], aku ingat kisah celana komprang[2] yang biasa dipakai oleh kekekku, Mbah Roso. Warnanya hijau tua, dan kolornya juga hijau tua. Mungkin saking sudah terlalu lama, ada bagian-bagian pinggir yang warnanya mulai pudar.
“Biasanya orang suka celana hitam dengan kolor putih, tapi Mbah kok pakai celana hijau to Mbah. Kok aneh?” tanyaku. Waktu itu umurku delapan tahunan.
“Bocah cilik, ndak usah tanya macam-macam!” jawab Mbah Roso sambil mengelus kepalaku.
Tapi ketika aku sudah SMA, aku bertanya lagi. Waktu itu Mbah Roso sudah semakin tua, umurnya delapan puluh tahunan, menurut ibuku.
“Mbah aku masih penasaran dengan warna celana sampeyan itu?”[3] tanyaku.
“Aku memang mau cerita kepadamu Le.[4] Sudah waktunya. Umurmu sudah cukup untuk berpikir tentang suatu peristiwa. Sudah ngerti benar-salah.”
Lalu kakekku menceritakan bahwa celana komprang berwarna ijo atau biasa disebut kolor ijo itu adalah peninggalan dari almarhum orang tuanya yang bernama Suromarto Dipokusumo Menggolo atau dikenal dengan Mbah Marto. Konon, kolor ijo itu adalah kolor yang sakti. Kolor ijo itu telah menjadi teman Mbah Marto dalam perjuangannya melawan kolonial Belanda sampai jaman Jepang. Setelah Jepang pergi, Mbah Marto meninggal dunia dan kolor itu diwasiatkan kepada Mbah Roso. Pada jaman agresi Belanda Mbah Roso juga menggunakan kolor itu untuk melawan pasukan sekutu.
Setelah jaman kemerdekaan, kolor ijo itu sering dipinjam oleh teman-teman Mbah Roso. Konon, akibat kehebatan khasiat kolor ijo tersebut maka ada teman Mbah Roso yang bisa menjadi anggota DPR, DPRD, Bupati, Walikota dan bahkan ada yang menjadi menteri.
“Tapi sampeyan sendiri kok ndak jadi apa-apa to Mbah?” tanyaku kepada Mbah Roso.
“Aku juga ndak minat jadi apa-apa. Cukup jadi petani, hidup tenang, tidak ada yang mengejar-ngejar. Aku tidak berani Le untuk memegang jabatan sebab disamping itu tugas berat, sekolahku juga tidak tinggi sehingga aku kuatir tidak menguasai ilmunya.”
Aku menjadi mengerti sedikit kisah dari kolor ijo tersebut. Hanya saja, aku belum pernah memperoleh jawaban atas rasa penasaranku, mengapa warnanya kok hijau. Tapi, aku mulai mengurangi rasa ingin tahuku itu.
***
Kini Mbah Roso telah tiada. Kolor ijo itu menjadi milikku, sebab ternyata Mbah Roso mewasiatkan kolor itu kepadaku. Hal itu membuat bapakku iri. Mestinya, menurut tradisi, bapakku sebagai anak tertua Mbah Roso berhak mewarisi kolor ijo itu. Tapi Mbah Roso almarhum mempunyai alasan bahwa bapakku tidak pantas mewarisi kolor ijo itu sebab bapakku telah berpoligami, isterinya dua.
Di dalam surat wasiatnya yang sangat panjang Mbah Roso menyatakan suatu alasan bahwa kolor ijo itu tidak boleh jatuh ke tangan laki-laki berpoligami sebab dapat menimbulkan bahaya atau naas.
Mbah Roso juga berwasiat agar aku tidak melakukan poligami dan agar aku juga berwasiat yang sama terhadap semua anak laki-lakiku kelak, agar di dalam trah atau dinastiku tidak ada laki-laki yang berpoligami. Kakekku itu juga menyatakan bahwa laki-laki berpoligami adalah manusia serakah yang bangga mengobral kelelakiannya, tertipu oleh imajinasinya sendiri, serta tidak mempunyai pikiran yang adil guna menghormati kemanusiaan kaum perempuan. Mbah Roso menyatakan bahwa bapakku adalah satu-satunya kutu busuk di dalam trah Suromarto Dipokusumo Menggolo.
Tapi kadang-kadang aku juga berpikir, seandainya di jaman ini tidak ada perempuan yang mau dimadu, maka bapakku pun tidak akan bisa berpoligami.
***
Tujuh tahun kemudian setelah meninggalnya Mbah Roso, sinar matahari semakin memerah, rembulan telah pucat-pasi, bumi sering diguncang gempa, direndam banjir, dan diresapi polusi.
“Le, Sarmin. Bapak mau meminjam kolor ijo peninggalan Mbah Roso. Bapak punya keperluan.” pinta bapakku.
Aku tak sempat berpikir keperluan apa yang dimaksudkan bapakku itu. Pikiranku bertengger di bahu kebimbangan. Aku ingat pesan kakekku untuk tidak memberikan atau meminjamkan kolor itu kepada orang yang berpoligami.
Akhirnya aku memutuskan untuk menolak permintaan bapakku karena ingat wasiat Mbah Roso yang juga telah diketahui bapakku itu. “Maaf Pak! Aku tidak berani melanggar wasiat kakek,” jawabku dengan muka tertunduk.
Jawabanku itu menjadi titik yang menyedihkan. Sebab akhirnya terjadi pertengkaran antara aku dengan bapakku, sampai-sampai isteriku membawa dua anakku yang masih kecil-kecil keluar dari rumah. Pertengkaran itu berakhir ketika bapakku terjatuh karena stroke-nya kumat, sehingga harus dibawa ke rumah sakit.
Kulihat ibuku dengan setia menunggui bapakku. Tiga hari kemudian isteri kedua bapakku alias ibu tiriku, yang biasa kupanggil Bulik Mariam, baru muncul menjenguk. Kulihat ibuku dan Bulik Mariam itu rukun, dan memang belum pernah aku melihat mereka bertengkar.
Setelah beberapa menit Bulik Mariam menunggui bapakku, ia keluar ruangan dan menggeret tanganku. Selama ini aku memang mempunyai hubungan yang baik dengan ibu tiriku itu, meskipun almarhum Mbah Roso tidak pernah mau berbicara dengannya. Pernah suatu saat aku bertanya tentang perasaan ibuku kepada Bulik Mariam, tapi ibuku hanya menjawab dengan senyuman dan mencubit hidungku. Jadi, aku menganggap cinta segitiga itu tanpa konflik apa-apa.
Tapi aku pernah bertanya-tanya dalam hati, benarkah sebegitu ikhlas hati ibuku ketika bapakku kawin lagi? Hanya saja, herannya ada juga perempuan yang mau menjadi isteri kedua. Bagaimana ya kira-kira Bulik Mariam itu memikirkan perasaan ibuku?
“Ada apa to Bulik?”[5] tanyaku kepada Bulik Mariam, setelah kami berada di tempat yang agak jauh dari ruangan bapakku dirawat.
“Lha iyo to Min. Bapakmu itu lo kok ya aneh-aneh. Dia akan mencalonkan diri jadi anggota DPRD. Lha orang sudah bau tanah kok ya masih ambisius. Katanya ia mau pinjam kolor ijo milikmu itu lo.”
“Gini lo Bulik. Kolor ijo ini kan peninggalan Mbah Roso. Bulik tahu kan? Menurut Mbah Roso, aku tidak boleh meminjamkan kolor itu sama siapa saja, termasuk kepada bapak. Lha masak aku harus mengingkari janji?”
“Ya sudah. Itu nggak usah dirembug!” jawab Bulik Mariam. Aku lihat ia begitu sederhana dan cantik. Pantas jika bapakku tergila-gila dengannya.
Yang mengganjal batinku adalah: selama ini bapakku tidak pernah berpolitik. Benarkah kata Bulik Mariam bahwa kolor ijo itu akan dijadikan bapakku untuk memuluskan jalannya menjadi anggota DPRD?
***
Sejak perisitiwa perselisihanku dengan bapakku itu, hubungan keluarga kami menjadi renggang.
Tapi yang sungguh-sungguh membuatku kaget adalah kabar bahwa Bulik Mariam menggugat cerai ayahku, padahal kelihatannya tidak ada masalah.
Aku dan ibuku tidak berani mencampuri urusan bapakku dengan Bulik Mariam. Kami tidak berani menanyakan masalah tersebut. Tapi bagaimanapun juga akhirnya bocor juga informasi tentang penyebab keretakan hubungan suami-isteri antara bapakku dengan Bulik Mariam. Ternyata Bulik Mariam ingin mempunyai anak, tetapi bapakku sudah tidak mampu memberi nafkah batin.
Kalau kuhubungkan dengan permintaan bapakku meminjam kolor ijo milikku, mungkin ada kaitannya dengan masalah itu. Sebab sepengetahuanku, bapakku tidak pernah menjadi aktivis atau anggota partai politik sehingga tidak mungkin mencalonkan diri menjadi anggota DPRD.
Ternyata perselisihan bapakku dengan isteri keduanya itu tidak hanya pada soal perceraian, tapi bapakku ditahan kepolisian atas laporan Bulik Mariam dengan tuduhan menggelapkan harta gono-gini. Tidak hanya itu. Rumah tempat tinggal ibuku pun disita oleh pengadilan karena gugatan Bulik Mariam. Itu jelas sudah ngawur sebab rumah ibuku tidak ada kaitannya dengan gono-gini bapakku dengan Bulik Mariam. Ibuku hanya bisa menangis.
Yang lebih menyedihkan lagi, bapakku akhirnya meninggal dunia akibat serangan stroke sewaktu ditahan di Kepolisian.
***
Suatu saat, ketika malam telah menggulung keramaian, aku mengambil kolor ijo dari kotak penyimpanannya. “Adakah ini menjadi penyebab semua masalah itu?” tanyaku dalam hati. “Seandainya aku dahulu meminjamkan kolor ijo ini kepada bapakku mungkin masalah tidak akan serumit itu,” gumamku sendiri.
Sudah empat malam aku tak bisa tidur. Pikiranku selalu gelisah. Aku tidak mengerti yang harus kuperbuat. Untuk menyewa pengacara, aku kuatir malah menjadi korban kebohongan pengacara seperti yang pernah dialami tetanggaku. Tak habis-habisnya aku berdoa, meminta pertolongan Tuhan, tapi apakah Tuhan mau memperhatikan doaku sebab selama ini aku sering melupakanNya ketika keadaanku masih lapang?
Aku pun berpikir, jika kolor ijo itu mengandung tuah seperti yang diceritakan Mbah Roso almarhum, mestinya bisa membantuku.
“Hai kolor ijo! Bagaimana menurutmu tentang masalah yang kami hadapi?” tanyaku. Aku menjadi merasakan keanehan pada diriku, sebab sebenarnya dari hatiku yang paling dalam tidak yakin dengan kepercayaan tentang kasiat atau tuah suatu benda, termasuk kolor ijo itu.
Beberapa saat aku mulai merasa menjadi gila sebab berbicara dengan kolor ijo, makhluk mati itu. Sia-sia, sebab kolor ijo itu toh benda mati yang tak dapat menjawab pertanyaanku.
Hawa dingin masuk ke dalam rumahku. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku.
“Assalamu’alaikum.” Aku tidak pernah bisa melupakan bahwa yang terdengar adalah suara Mbah Roso. Aku ragu-ragu, sebab Mbah Roso sudah meninggal.
“Wa’alaikumussalaam,” jawabku. Kubuka pintu dengan perlahan-lahan.
“Le, Sarmin. Aku datang ke sini hanya sebentar saja, sebab kesedihanmu kudengar dari tempat tinggalku sana.” Benar-benar Mbah Roso yang datang. Ia masuk rumah dan duduk.
Namun aku sedikit ragu, apakah benar yang bicara denganku adalah almarhum Mbah Roso. Tapi aku juga pernah membaca buku ulama Syi’ah, Najafi Qucani, yang menceritakan pengalaman matinya. Katanya, roh orang mati itu kadang-kadang juga mengunjungi keluarganya di dunia, meski dalam buku itu tidak diceritakan sampai terjadinya pembicaraan antara roh Najafi dengan keluarganya di dunia.
Ada banyak rahasia yang tak kuketahui. Kisah Najafi yang diakuinya nyata itu bisa benar atau tidak.
“Bapak telah meninggal gara-gara keinginannya untuk memiliki kolor ijo itu tak terpenuhi. Sekarang menjadi masalah yang melebar tidak karu-karuan Mbah,” kataku. Hawa dingin semakin menusuk tulangku.
“Tidak, Le. Bapakmu mati karena takdirnya sudah sampai. Ia sakit stroke akibat terlalu sering menuruti keinginannya tetapi jiwanya tidak tenang. Sekarang kematian telah membuatnya tenang,” kata Mbah Roso, wajahnya tampak putih dan segar. “Untuk menghadapi gugatan Mariam itu, datangilah ia di rumahnya dengan membawa kolor ijo ini. Mintalah kepadanya agar ia mencabut gugatannya dengan memberikan kolor ijo ini kepadanya. Kukira hanya itu saranku. Wassalamu’alaikum.” Mbah Roso pun lenyap dari hadapanku.
“Wa’alaikumussalaam,” balas salamku. Aku gelagapan mengalami peristiwa yang belum pernah kualami itu, bertemu roh orang mati.
Lalu apakah pengaruhnya jika aku memberikan kolor ijo itu? Pertanyaan itu berkecamuk di otakku. Tapi aku akan menuruti saja pesan Mbah Roso itu. Aku sendiri sebenarnya merasa rikuh menyimpan kolor ijo sebab aku ini orang rasional yang tidak percaya tuah benda-benda seperti itu.
Ternyata benar, Bulik Mariam bersedia mencabut gugatannya. Ia sangat senang menerima kolor ijo dariku. Bahkan secara terang-terangan ia berkata kepadaku bahwa ia telah berhasil menggeser trah Suromarto Dipokusumo Menggolo untuk memiliki kolor ijo.
***
Tiga bulan kemudian Bulik Mariam sudah menikah lagi dengan seorang laki-laki yang usianya delapan tahun lebih muda. Anehnya, setiap sore hari suami Bulik Mariam terlihat selalu memakai kolor ijo itu.
Tetapi belum sampai dua tahun sejak perkawinan mereka, suami Bulik Mariam itu menikah lagi dengan seorang perawan sebagai isteri keduanya. Ia berpoligami. Bulik Mariam kelihatan semakin kurus dan sakit-sakitan. Hingga akhirnya terjadi peristiwa mengenaskan, kolor ijo itu tercemar merah darah sebab Bulik Mariam memotong kelamin suaminya itu.
Sejak itu yang kudengar kolor ijo itu menjadi barang bukti kasus pemotongan kelamin itu dan hingga kini entah siapa yang menguasainya. Bulik Mariam sendiri saat ini masih dirawat di rumah sakit jiwa.
Pernah suatu saat ibuku, isteriku dan aku menjenguk Bulik Mariam, tapi Bulik Mariam terus-terusan berusaha merangkulku dengan berkata, “Kolor ijo, ayo beri aku anak! Ayo beri aku anak!” Akibatnya isteriku cemberut, cemburu dengan perempuan tidak sehat akalnya itu.
25 November 2007
Presiden Terancam PHK !
Den (aku memanggil Presiden) !
Lebarkan telingamu!
Lebarkan matamu!
Bentangkan sayapmu!
Kemelankolisanmu taruh di sudut kamar kekuasaan!
Keromantisanmu simpan dulu di kolong peraduan!
Kau tahu
Kau tahu
Kau tahu
Kau tahu
Kau tahu negara besar ini jadi kerdil?
Kau tahu negara kaya ini jadi gelandangan?
Kau tahu negara pemenang ini jadi pecundang?
Kau tahu negara agamis ini merendahkan Tuhan?
Kau tahu......... ! Tahu semua! Tahu !
Letakkan gitarmu, ambil pedangmu!
Pimpin rakyatmu maju perang untuk menang!
Robohkan gedung mahkamah agung yang linglung!
Bakarkan gedung Jaksa Agung yang penuh lempung!
Hancurkan gedung kantor polisi yang penuh prostitusi!
Gusurkan kantor advokat yang penuh orang bejat!
Jangan ragu, bangun yang baru!
Kau tak akan bisa menuai padi yang kau tanam di sawah negara,
jika kau biarkan tikus-tikus melahirkan anak-anak mereka.
Kau tak akan bisa menikmati hasil ternak di peternakan negara,
jika kau biarkan serigala mengikuti program keluarga berencana,
apalagi jika kau biarkan mereka beranak-pinak semaunya.
Jika kau tak bisa maju....., mundur saja!
Percuma kami menggaji orang tak bisa kerja!
Hanya jadi beban negara!
Mundur jika tak bisa kerja, daripada kami PHK!
24 November 2007
Kisah Batu Akik di Jagal Timur
Lebih dulu di:
http://www.fordisastra.com/modules.php?name=News&file=article&sid=569
( 24/11/2007)
Di suatu gelap, di musim yang lalu, ketika itu hujan batu. Hujan batu; yang turun batu hitam, batu plapak, batu karang, batu bata, batu gunung, dan tak ketinggalan ada secuil batu akik yang terukir, lengkap dengan cincinnya. Cincin akik itu satu-satunya barang bukti yang ditemukan dalam kerusuhan pemilihan kepala daerah (pilkada) propinsi Jagal Timur. Kantor gubernur dan DPRD hancur dihujani batu ketika matahari masih pulas tertidur menjelang ayam jantan berkokok. Patut diduga, kaum perusuh itu pendukung pasangan cagub-cawagub H. Kamat, SH – Ir. Sukar (disingkat Kasur) yang kalah suara selisih tiga ribu suara dengan pasangan Drs. Ngilam – Kopmar, ST. (disingkat Ngamar).
Sebelumnya memang ada isu bahwa para pendukung Kasur akan protes massal kepada Komisi Pemilihan Kepala Daerah (Kompilkada) Jagal Timur yang dianggap memihak pasangan Ngamar. Anehnya, para intel polisi di Jagal Timur mengaku tidak mencium rencana serangan fajar hujan batu yang memorak-porandakan gedung pemerintahan di ibukota Jagal Timur. Di koran-koran dan televisi muncul opini dan komentar para analis politik, sosial dan hukum yang menuduh kepolisian telah memihak sehingga sengaja membiarkan kerusuhan itu terjadi. Kapolda Jagal Timur dengan senyumnya menepis isu itu. ”Kami bekerja untuk negara, bukan untuk golongan,” kata Kapolda Jagal Timur. Kelompok pendukung pasangan Kasur membantah. ”Itu fitnah! Kami akan menuntut para komentator yang asal njeplak itu! Ini negara hukum. Kami akan protes keberpihakan Kompilkada dengan aksi demo yang sesuai dengan hukum. Para perusak itu adalah orang-orang bayaran yang sengaja menyulut situasi!” Isu pun bertambah melebar, bertambah tinggi, setinggi muncratan lumpur Lapindo di Jawa Timur yang berkali-kali membuat tanggulnya jebol.
Para wartawan mendesak Kapolda Jagal Timur tentang hasil penyelidikan kepolisian terkait perusakan kantor pemerintahan Jagal Timur. ”Kami sudah mengantongi nama pemilik cincin akik yang kami temukan di tempat kejadian perkara (TKP), tapi untuk kepentingan penyelidikan yang belum selesai maka saya rahasiakan dulu siapa dia. Maaf ya!” kata Kapolda Jagal Timur disambut suara gerutu para wartawan. Besoknya, sebuah koran nasional ternama membuat judul berita: ”Otak Pelaku Kerusuhan Jagal Timur di Kantong Kapolda!”
Judul berita itu menimbulkan kesalahan persepsi anak-anak SMP di pusat kota Jagal Timur. Mereka demo ke Polda Jagal Timur, membawa poster-poster dengan tulisan, ”Rebut Isi Kantong Kapolda untuk Rakyat!” ”Di Kantong Kapolda Ada Otak Kerusuhan.” dan lain-lain. Kapolda Jagal Timur yang dikenal ramah itu maunya menemui anak-anak SMP yang mendemonya. Tak tahunya anak-anak SMP itu mengeroyok Kapolda dan menggeledah kantong-kantongnya. ”Wah, nggak ada! Nggak ada! Di saku Pak Kapolda nggak ada otak! Nggak ada .....! Ini yang bohong Pak Kapolda atau koran?” Anak-anak itu ribut dan kecewa. Sementara itu Kapolda segera diamankan anak buahnya, meski Kapolda maunya masih ingin bincang-bincang dengan anak-anak SMP. Besoknya lagi muncul judul berita: ”Anak-anak SMP Pendemo Kapolda Dihukum push-up di Sekolah!” Para aktivis pegiat pendidikan demo! Tak pelak kasusnya melebar ke isu pendidikan koersif. Jagal Timur semakin ribut. +++
Tiga bulan kemudian pasangan Ngamar dilantik menjadi Gubernur Jagal Timur. Pelantikannya ibukota Republik Atas Angan. Di ibukota Provinsi Jagal Timur, pasukan pagar betis Polda Jagal Timur tak mampu menahan gerak massal pendukung pasangan Kasur yang mengamuk. Tak pelak gedung gubernuran dan DPRD Jagal Timur yang belum sempat direnovasi akibat kerusuhan pertama, menjadi rusak semakin parah, terbakar habis, rata menjadi tanah. Polisi berhasil menangkap 150 pelaku kerusuhan yang diduga otak kerusuhan. Ribuan lainnya tak diusut, sebab pasti akan menghabiskan anggaran kertas dan tinta komputer jika harus membuat berita acara untuk ribuan orang. Apalagi penjara tak akan cukup menampung ribuan orang. Wong korupsi massal di DPRD Sirobonek tahun 1999 lalu hanya menjerat tiga otaknya dan melepaskan 20-an buntutnya, apalagi kasus kerusuhan itu melibatkan ribuan orang?
Singkat cerita, karena ini cerita pendek, 150 orang dibawa ke pengadilan dan masing-masing dihukum setahun penjara. Tak ada upaya banding. Mereka menerima putusan itu. Tapi 150 orang itu tidak kelihatan sedih. Mereka cengengesan seperti Mucalas, Kamarozi dan Imam Danau terpidana teroris di negara Indosa itu. Orang-orang curiga, mengapa begitu? Ketika ada wartawan yang bertanya, mengapa mereka kelihatan tidak bersedih padahal dihukum. Mereka menjawab, ”Kami ini berjihad, membela kebenaran. Kerangkeng besi tak akan mampu mengurung jiwa kami! Biarpun langit menelungkup membekap bumi dan tubuh kami, roh dan jiwa kami tetap bebas merdeka! Dalam kemerdekaan tak ada derita! Dan jika masih ada derita, kemerdekaan hanya tipudaya! Allaahu akbar! Wah, pelaku kerusuhan itu juga ada yang punya bakat menjadi penyair.
Pasangan Ngamar mulai menjalankan tugas. Tak ada demo lagi. Tak ada lagi tanda tanya tentang siapa otak kerusuhan pertama. Tatap masih di kantong Kapolda Jagal Timur. Tak ada lagi media massa yang mengorek-ngorek kasus kerusuhan itu. Isu sosialnya berubah ke arah dugaan korupsi yang dilakukan mantan gubernur Makmum Iatnas. Kok pasti begitu. Di negara Atas Angan memang punya ciri khas korupsi. Jadi pejabat kalau nggak korupsi rasanya badan jadi gatal semua. Tapi para penegak hukumnya juga pejabat yang hobi korupsi. Jadinya lucu, koruptor disuruh memberantas koruptor. Akhirnya koruptor ketemu dengan koruptor. Karena sesama golongan, maka penyelesaian hukumnya ya bagi-bagi hasil korupsi. Situasi seperti itu menjadi berkah bagi para advokat alias pengacara yang lebih banyak ahli menjadi makelar dibandingkan ahli hukum.
Tapi perkembangan kasus dugaan korupsi yang dilakukan Makmum mantan Gubernur Jagal Timur itu sulit diteruskan. Kata Kejaksaan Tinggi Jagal Timur, berdasarkan keterangan para ahli hukum administrasi negara dari Universitas Airlumpur, Universitas Bajulempung dan Universitas Otakcumplung ternyata tidak ada unsur pidananya. Hanya pelanggaran adminsitrasi. Kok persis dengan pendapat SR Balkan, Menteri Kehutanan dalam kasus perusakan hutan di Propinsi Saladna Utara. Repotnya juga, di negara Atas Angan konon pendapat ahli dari para guru besar juga gampang dibeli seperti semudah kita membeli bawang di pasar-pasar. Hanya saja yang bisa membeli pendapat ahli itu mereka yang kantongnya tebal isi uang, bukan isi klobot. Kalau kasus lokal tarifnya Fp. 5 jutaan. (Fp. singkatan Fuluspiah, mata uang Atas Angan). Kalau kasus nasional ya ratusan juta fuluspiah. Itu kaitannya dengan kebiasaan di kampus yang suka jual-beli karya ilmiah, kata Prof. Dufham DM yang juga guru besar hukum itu. Kampus-kampus sekarang menjadi persemaian benih-benih mental korupsi. +++
Hancurnya kantor gubernuran dan DPRD Jagal Timur membuat pemerintahan sementara dijalankan numpang di kantor Kota Sirobonek. Proyek pembangunan pembangunan gedung gubernuran dan DPRD dikebut, tanpa tender sebab dalam keadaan darurat. Hasil telisik wartawan majalah Langgeng menemukan fakta menarik. Ternyata perusahaan yang memegang tender pembangunan gedung pemerintahan Propinsi Jagal Timur adalah PT. Kadut, milik Kaji Alex, yang tak lain adalah sepupu dari H. Kamat, SH yang gagal menjadi gubernur Jagal Timur dalam pemilihan yang dimenangi pasangan Ngamar. Informasi terus diselidiki. Adalah wartawan majalah Langgeng bernama Komir yang menyamar masuk ke ruang-ruang yang tak dipedulikan orang. Di sana ada gelak tawa kemenangan dari orang-orang yang selama ini tampak kalah dalam pertarungan politik. Ternyata mereka tetap memenangkan persekongkolan ekonomi. Komir membuat hipotesa sebelum menurunkan sebagai berita investigatif. Ada dugaan kuat bahwa kerusuhan pertama dan kedua dalam pemilihan gubernur Jagal Timur tersebut sengaja dirancang. Pasangan Kasur dengan Ngamar sudah membuat kesepakatan di lorong gelap bahwa siapapun yang memenangkan pemilihan harus memberikan tender pembangunan gedung gubernuran dan DPRD yang berhasil dihancurkan. Mereka juga bersekongkol dengan para pimpinan polisi di pusat kota Jagal Timur. Ternyata penunjukan langsung PT. Kadut itu merupakan pelaksanaan perjanjian konspirasi itu. Uang negara Atas Angan di Propinsi Jagal Timur pun mengalir ke kantong-kantong mereka. Pantas saja 150 terpidana kerusuhan itu cengengesan. Rupanya mereka juga memperoleh uang bagian dengan cara dipenjara, untuk mengalihkan perhatian dan persepsi masyarakat.
Namun, sebelum Komir sempat menyerahkan data-datanya ke redaksi, ada kabar ia ditangkap polisi dengan tuduhan menyimpan sabu-sabu di dalam tasnya. Komir membantah keras. Ia merasa dijebak. Tapi masyarakat tak tahu apa yang ada di balik semua itu. Komir meronta. Tubuhnya yang cicih diterkam keperkasaan kekuasaan yang tak akan pernah jera untuk selalu membohongi rakyatnya sebab memang negara Atas Angan didirikan dengan dasar prostitusionisme. Inilah negara pasar! Barangsiapa yang ingin makmur sejahtera harus menjual. Jual apa saja. Kekayaan negara harus dijual, tak peduli dengan harga murah. Orang miskin dijual. Anak-anak dijual. Perempuan dan laki-laki dijual. Kalau perlu isteri atau suami dijual. Diri-sendiri dijual. Harga diri dijual. Angin kentut jual! Air kencing jual! Jual semua, jangan ada yang tersisa. Jangan lupa Tuhan, jual! Sebab mereka hidup di pasar. Hanya nilai agama, kejujuran dan moral yang tak laku di pasar-pasar.
Sebulan kemudian ada berita: ”Komir meninggal di ruang tahanan.” Selanjutnya nasib Komir seperti Udin, semakin dilupakan. Sebab Udin dianggap bukan pendekar HAM seperti Munir. Udin bukan penyair aktivis seperti Wiji Thukul. Udin bukan pahlawan buruh seperti Marsinah. Tapi setidaknya Udin masih hidup di jiwa-jiwa yang menemaninya. Udin bukan koruptor atau pembalak hutan yang tenar dalam kematian moral, mati jiwa dalam ketakutan di lorong-lorong persembunyian.
Saya sebagai pengarang cerita ini berdoa, ”Semoga Tuhan tak menggerakkan tanganku untuk menulis: Mayat Komir juga dijual! Ya Allah, ampuni aku! Cerita rombeng (cerbeng) ini akan aku jual.....”
Ohya..., lantas batu akik di awal cerita itu ternyata milik polisi. Akik itu dibeli dari Pak Sularto yang biasa dagang akik di pengadilan. Itu bukan akik milik agen CIA yang sering keluyuran di sini dan meledakkan bom bersamaan dengan bom ikan. Biar ini nggak jadi ’cermus’ atau cerita misterius. ”Lha batu akik itu kini siapa yang menyimpan?” Ingat, ini negara pasar! Ya dijual! Langit mulai menjauh, kian meninggi dari bumi Atas Angan. Ia takut, bisa-bisa akan dijual penguasa Atas Angan, atau dijaminkan sebagai utang di IMF atau World Bank. Hanya matahari yang tak peduli. Ketika langit lenyap maka gunung-gunung es bumi akan mencair, menenggelamkan daratan. Di mana hari itu tak ada lagi tawaran bahtera dari Nuh. Tak ada lagi tongkat Musa yang membelahnya.
Sebab bahtera Nuh dan tongkat Musa tak akan mau datang di negeri pasar. Nanti akan dijual!
Kupersembahkan kepada terutama para pencuri dan pedagang asongan kekayaan negara. (Surabaya, 24/11/2007).
22 November 2007
Masuk Negara Akibat Poligami
Sebuah cerkol = cerita konyol
MASUK NERAKA AKIBAT POLIGAMI
Antrian panjang pada Pengadilan Akhirat. Ada banyak orang kulihat dieksekusi, dilemparkan ke neraka, setelah diputus oleh Yang Maha Adil. Diantaranya: para koruptor (yang meskipun naik haji berkali-kali dan tekun beribadah ritual), para bekas petualang seks, ada banyak polisi, jaksa, hakim dan pengacara yang memperjual-belikan hukum, ada bekas para politikus yang perbuatannya menipu rakyat. Bahkan ada juga orang yang ibadahnya sempurna tapi masuk neraka gara-gara pelit kepada orang-orang miskin. Yang membuatku kaget, ternyata semua presiden di dunia masuk neraka, dan banyak ulama yang ternama juga masuk neraka karena ilmunya. Hanya ada satu orang diantara sejuta orang, yang masuk surga. Mayoritas manusia penghuni neraka.
Giliranku tiba. Tak perlu ada yang aku khawatirkan. Aku mempunyai begitu banyak harapan. Selama hidupku aku patuh menjalankan shalat, puasa, membayar zakat. Bahkan selama hidup aku sudah naik haji selama tigabelas kali. Aku juga berusaha keras menjaga perilaku kepada sesama hidup. Aku tidak merasa pernah punya musuh. Aku juga sudah memberi makan dan pakaian kepada Tuhan dengan cara memberi makan dan pakaian kepada orang-orang miskin. Lalu apa yang harus aku takuti?
“Malaikat! Seret orang ini ke neraka! Aku muak dengan tampangnya yang busuk itu!” Perintah Tuhan kepada malaikat. Aku tersentak. Dadaku serasa penuh.
“Ya Tuhanku Yang Maha Suci. Ampunilah hambaMu ini! Apakah kiranya kesalahan hamba?” tanyaku. Aku hampir saja menangis, tidak percaya dengan keputusan Tuhan itu. Alangkah bodohnya Tuhan, pikirku. Bagaimana Ia menilaiku? Aku merasa diperlakukan tidak adil.
“Ya Tuhan kami. Maafkan hamba! Hamba tidak bisa menyeretnya ke neraka, sebab hamba tidak bisa mendekati orang ini, karena baunya terlalu busuk,” kata malaikat itu. Kulihat ia mulai menutupi hidungnya dan membuang muka.
Aku memang merasakan bau busuk. Aku mencoba membau tanganku, bajuku dan kakiku. Benar, bau busukku sangat menyengat. Ternyata itu bauku sendiri. Perasaanku mulai gundah. Mengapa aku menjadi busuk?
“Ya Tuhan. Apakah kiranya kesalahanku di dunia?” tanyaku kembali.
“Kamu poligami,” jawab Tuhan.
Aku kaget dan heran dengan jawaban Tuhan tersebut. Bukankah hukumNya telah menghalalkan poligami? Bahkan, sebelum poligami aku sudah berkonsultasi dengan para ulama atau kyai. Mereka juga banyak yang poligami.
“Ya Tuhan, bukankah syariatMu menghalalkan kami para pria untuk berpoligami?”
“Ya betul. Tapi itu tidak berlaku dalam konteks hidupmu. Hakikatnya bukan seperti yang kamu lakukan. Kamu melakukannya hanya berdasarkan keinginanmu. Sebenarnya kamu adalah lelaki yang serakah dan kemaruk. Apakah kekurangan isteri pertamamu, sehingga engkau poligami?” tanya Tuhan.
Aku gelagapan, tidak siap untuk menjawab pertanyaan Tuhan tersebut. Kalau kupikir, isteri pertamaku memang cukupan. Sebagai seorang isteri ia telah berlaku baik. Aku tidak perlu memperkosanya ketika aku membutuhkannya. Bahkan, kalau kupikir-pikir isteri pertamaku terlalu penurut. Tapi, isteriku yang pertama hanya memberiku tiga anak laki-laki. Setelah itu ia dinyatakan dokter tidak boleh hamil lagi karena kelainan rahimnya.
“Ya Tuhan. Aku menginginkan anak perempuan, sedangkan isteri pertamaku tidak dapat melahirkan anak perempuan,” jawabku. Aku tidak memperoleh jawaban yang lebih tepat daripada itu.
“Kau harus tahu bahwa itu adalah ketetapanKu. Aku sudah memberimu kemampuan ekonomi, memberi isteri yang baik, serta memberimu anak-anak. Banyak orang yang tidak mempunyai anak. Tapi kamu masih merasa kurang. Kamu tidak bisa membohongiKu. Sebab keinginanmu mempunyai anak perempuan itu adalah setengahnya. Sedangkan setengahnya lagi, kamu memang mempunyai minat untuk kawin lagi. Bukankah begitu?”
Aku tidak bisa menjawab. Tuhan Maha Mengetahui, sekecil apapun pikiran dan perasaanku.
“Mungkin begitu ya Tuhan. Tapi, bukankah Paduka tidak menjelaskan secara rinci tentang halalnya poligami itu?” tanyaku mencoba membela diri.
“Di situlah letak kegoblokanmu sebagai manusia. Kamu sebenarnya sudah bisa berpikir bahwa hukumKu itu adalah untuk mengatasi suatu masalah atau perkara-perkara yang penting. Sesungguhnya kamu tidak mempunyai masalah apa-apa. Isteri keduamu juga tidak mempunyai problem apa-apa. Kalau kamu tidak mempunyai anak perempuan, itu bukanlah masalah. Tidak mempunyai anak laki-laki juga bukan masalah. Bahkan kalau otakmu waras, tidak mempunyai anak pun juga bukan masalah. Justru anak-anak dan harta kalian itu merupakan cobaanKu.”
“Lalu, poligami itu untuk memecahkan persoalan yang bagaimana ya Tuhan? Bukankah, dengan merumuskan hukum poligami itu maka seolah-olah Paduka memberi peluang kepada kami? Paduka adalah Tuhan yang Maha Mengetahui, sedangkan kami adalah manusia yang sedikit pengetahuan kami. Lalu, untuk apa hukum poligami itu ada?” Aku mencoba menyudutkan argumen Tuhan dengan pertanyaan itu.
“Goblok! Kau belajar hukum tidak melihat konteks, tapi hanya memahami arti teksnya saja. Kau boleh melakukannya jika dalam rangka menyelamatkan harkat kemanusiaan dan kelestarian generasi. Penduduk di negaramu sudah terlalu banyak dan banyak yang menjadi beban negara. Di jamanmu justru banyak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Sudah tidak ada lagi jalan penyelamatan harga diri perempuan melalui poligami, malah sebaliknya sekarang ini poligami menjadi alat penghinaan kaum perempuan. Aku menghukummu, sebab kau melakukan poligami atas dasar nafsu atau keinginan. Kau melukai perasaan isteri pertamamu yang telah turut berjuang membantu kehidupan keluargamu. Aku menciptakan perempuan bukan untuk pemuas keinginan laki-laki, tapi sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaranKu. Akuilah, bahwa perbuatanmu itu didasari keinginanmu!”
Aku tak kuasa lagi melihat Tuhan yang selalu membelakangiku. Hilang sudah harapanku untuk memasuki surga. Dari punggung Tuhan aku melihat diriku tercermin. Badanku manusia tapi kepalaku adalah kepala anjing dengan lidah yang menjulur dan nafasku terengah-engah.
“Malaikat! Cepat! Lemparkan anjing busuk ini ke neraka!” Tuhan berteriak. SuaraNya seperti guntur, memenuhi alam. Telingaku terasa pekak.
“Ampuni kami ya Tuhan! Bau manusia ini terlalu busuk! Bagaimana kami dapat mendekatinya?”
Tiba-tiba angin panas berhembus. Badanku ditarik oleh lidah api neraka. Aku menjerit-jerit dan melolong panjang. Tetapi, sebelum lidah api neraka melemparkanku ke dalam neraka, aku melihat isteri pertamaku berlari-lari memasuki ruang sidang. Suara tangisnya yang memanggil-manggilku menyebabkan lidah api neraka itu berhenti. Tubuhku terbakar di awang-awang. Alangkah lebih baik jika aku dimusnahkan saja atau tak pernah diciptakan daripada harus menahan derita.
“Ya Tuhan! Saya memohonkan ampun atas dosa-dosa suami saya. Saya memaafkannya ya Tuhan!” kata isteri pertamaku terbata-bata.
“Baiklah. Aku mengampuni dosa suamimu. Tapi bukan berarti suamimu harus enak-enakan bebas dari hukuman, sebab Aku ini Maha Adil. Ia telah menyebabkan deritamu oleh sebab ia menjalankan hukumKu bukan atas dasar pemikiran otak yang jernih, tapi atas dasar keinginan dan nafsunya.”
Maka lidah api neraka itupun segera melemparkan aku ke neraka.
Di dalam neraka aku bertemu dengan banyak laki-laki yang senasib denganku. Bahkan banyak diantara mereka adalah para kyai. Aku lihat mereka juga sama denganku, badan mereka manusia tapi kepala mereka adalah kepala anjing dengan lidah yang menjulur-julur.
Aku melihat kyai yang dahulu memberi konsultasi kepadaku tentang poligami. Meskipun kepala kami menjadi kepala anjing tapi di badan kami distempel nama masing-masing.
“Benarkah bapak adalah Kyai Hozam?” tanyaku.
“Oh, Anda ini Pak Sarmin ya?” laki-laki itu balik bertanya.
“Iya Kyai. Bagaimana kita ini Kyai, kok ternyata bernasib begini gara-gara poligami?” tanyaku, seolah-olah meminta pertanggungjawabannya.
“Ya beginilah. Ternyata hukum Tuhan tidak dapat ditafsirkan dengan suatu keinginan. Pikiran kita dilumuri nafsu,” jawab Kyai Hozam.
Tapi belum genap pembicaraan kami, lidah api menjulur dan membakar tubuh kyai itu. Ia menjerit-jerit. Kulihat ia menggelepar kehausan. Lidah api neraka membawakan cairan nanah panas dan dituangkan ke mulut kyai itu. “Ini hukuman untuk ilmu sesatmu yang dipenuhi nafsu!” terdengar suara keras memekakkan telinga.
Aku melihat Kyai Hozam dalam deraan siksa yang sangat berat. Maklum, sebab di dunia ia berpoligami sampai empat isteri. Akupun juga disiksa bertubi-tubi, tetapi lebih ringan. Mungkin karena isteriku hanya dua.
Sementara para perempuan yang menjadi korban poligami di pinggir surga menangis sambil menjatuhkan bunga-bunga dan makanan surga kepada para suami mereka di dalam neraka. Kulihat isteri pertamaku juga melakukannya. Tapi makanan dan bunga-bunga itu hangus terbakar api neraka sebelum sampai di tangan kami.
Entah berapa lama aku harus mendekam, terbakar api neraka. Tapi untungnya isteri pertamaku masih memaafkanku. Jika tidak, maka akan lebih lama lagi deritaku di neraka.
Jika aku kehausan maka yang kuminum adalah nanah mendidih yang membuatku semakin kehausan. Barangkali itulah gambaran manusia, jika dipenuhi nafsu dan keinginannya, maka selalu kurang dan kurang terus. Entah berapa lama aku terendam dalam penderitaan yang tak terkira di neraka. Rasanya jauh-jauh lebih lama dari umurku di dunia. Seolah-olah sudah ribuan tahun.
“Angkat manusia yang bernama Sarmin!” Suara menggema dari langit neraka. Betapa senangnya aku, sebab penderitaanku mungkin segera berakhir.
Para makhluk, mungkin utusan Tuhan, dengan baju hitam-hitam melemparkan aku ke dalam air pencucian. Mereka menggunakan masker, sebab bau penghuni neraka memang busuk-busuk. Selama satu jam aku dibolak-balik di dalam kolam pencucian. Kulihat para utusan Tuhan itu geleng-geleng kepala.
“Astaghfirullah! Bau busuk manusia ini tak dapat lenyap sempurna,” kata yang satu.
“Ya. Benar. Masih ada bau amisnya. Ya sudahlah, mungkin memang tidak dapat hilang. Kita serahkan saja kepada penjaga surga!” kata yang satunya lagi.
“Baiklah.”
Akhirnya aku diserahkan kepada malaikat penjaga surga. Kulihat isteri pertamaku melambai-lambaikan tangan di dalam surga yang indah. Tapi aku tidak melihat isteri keduaku. Konon, isteri keduaku menjadi jodoh lelaki lainnya, sebab ketika aku meninggal dunia ternyata ia menikah lagi.
“Tidak! Aku tidak mau dihuni oleh manusia ini. Aku tidak mau dihuni oleh para lelaki yang mudah poligami karena hasratnya adalah nafsu dan keinginan. Kelak para lelaki itu akan mengecewakanku! Jika mereka nanti melihat surga yang lebih indah, maka aku akan ditinggalkannya. Aku menolak manusia ini!” Suara itu adalah suara surga yang menolakku.
Para malaikat kebingungan. Aku bertambah cemas.
“Ya sudah, kita kembalikan ke neraka,” kata para malaikat.
“Tidak! Di sini juga sudah tidak dapat menerimanya!” kata neraka.
Alangkah malangnya aku. Mengapa alam membenciku?
(Surabaya, 10 Oktober 2004)